Home opINi Ketua PBNU Syahrizal Syarif Ke Xinjiang Untuk Klarifikasi
opINi - December 22, 2019

Ketua PBNU Syahrizal Syarif Ke Xinjiang Untuk Klarifikasi

Februari 2019 lalu, Ketua PBNU Syahrizal Syarif ke Xinjiang untuk melakukan klarifikasi dugaan kasus persekusi warga Muslim Uyghur.

Di sana, Syahrizal tidak melihat adanya persekusi atas perbedaan agama atau etnis. Karena memang konstitusi RRC menjamin warganya untuk beragama. Hal ini nyata dengan adanya lebih dari 20.000 mesjid dengan lebih dari 30.000 ulama dan pusat pusat pendidikan Islam. Minoritas diperlakukan dgn baik dan hidup dengan damai.

Keadaan menjadi lain ketika dari tahun 1992 – 2015 terjadi lebih dari 200 serangan kekerasan terorisme dengan korban yg bermakna paling tidak 14 serangan bermotif separatisme di Xinjian dan bahkan di Beijing yang mengubah wajah Xinjiang. Korban terorisme berjatuhan. Umumnya serangan teroris ini dilakukan oleh organisasi teroris East Turkestan Islamic Movement (ETIM) atau Turkestan Islamic Party (TIP) yang mempunyai hubungan dengan Al Qaeda, Taliban, dan ISIS.

Irjen Pol (purn) Arief Dharmawan dari BNPT menambahkan bahwa pemberontakan terhadap pemerintah Tiongkok telah berlangsung sejak lama di Xinjiang. Saat ini, kebanyakan pemimpin mereka berada di pengasingan, antara lain di Turki, Jerman dan Amerika Serikat. Kebanyakan gerakan ini adalah gerakan kesukuan yang sekuler, walaupun terdapat beberapa gerakan yang berideologi Islam.

Tentu pemerintah China akan lakukan berbagai tindakan untuk mengatasi terorisme, seperti kita membentuk Densus 88 dan Amerika membuat Guantanamo.

Namun yg tidak dilakukan negara lain adalah langkah pencegahan yg menyentuh akar masalah separatisme dan terorisme yaitu kemiskinan dan kebodohan.

China membuat pola pencegahan dengan melakukan program yg mahal yaitu “re-edukasi”. Menurut Arief Dharmawan, program deradikalisasi mereka ini sebenarnya juga mencontoh program BNPT.

Warga Uyghur yang dinilai radikal, masuk program re-edukasi ini selama 1 tahun di Pusat Pendidikan. Program inilah yang kemudian dinarasikan oleh pihak tertentu sebagai “camp – konsentrasi”.

Syahrizal mengunjungi 3 pusat re-edukasi ini, berjumpa dan mewawancarai peserta program vokasional. Diselenggarakan di kampus yg bagus dengan asrama, kantin halal, lapangan olah raga, ruang rekreasi, seragam dan fasilitas pelatihan yang luar biasa. Mereka belajar selama 5 hari, sabtu- minggu pulang ke rumah. Mereka belajar bahasa Mandarin, hukum negara dan memilih 2 keterampilan yang akan berguna untuk masa depannya.

Xinjian akan menjadi pusat industri baru China di wilayah barat. Wilayah Xinjiang kaya sumber alam, terutama gas. Xinjiang bagian penting dari kebijakan China “One belt one road” yang menjadi ancaman bagi perdagangan pihak barat. Hal inilah yg mendorong isu Uyghur dikobarkan oleh pihak yang berkepentingan.

Saat ini kunjungan turis ke Xinjiang terutama Kashgar yg merupakan pintu barat Jalur Sutera sudah mencapai 200 juta turis baik domestik dan manca negara. Bahkan China membuka kesempatan untuk turis melihat pusat2 pelatihan.

Xinjian saat ini merupakan wilayah otonomi yang berkembang pesat. GDP per capita Xinjiang mencapai US $ 7.000. Sementara GDP per capita indonesia sekitar US $ 3.900 (2018). Jelas, 11 juta warga Uyghur dari 23 juta warga Xinjiang lebih makmur daripada kita. Bagaimana mungkin kita mau #SaveUyghur ..😄